Pulau Hantu

Kisah ini berdasarkan Cerita di Pulau Hantu Suatu hari pada liburan akhir semester, Vika dan

kawan kawannya, Sheril, Dika dan Evi berlibur di pantai dengan Suasana Pulau yang sangat Indah.

Namun Pantai itu sepi, hanya ada mereka berempat dan seorang penjaga pantai.

"Sepi ya," kata Vika.

"Bagus donk, dari pada rame, harus berdesak-desakan lagi," timpal Sheril.

"Keliling, yuk!" ajak Evi.

"Keliling?" tanya Dika.

"Tuh, lihat, ada speedboat!" kata Evi sambil menunjuk speedboat di dekat seseorang yang

kelihatannya seperti penjaga pantai. Penjaga pantai itu memakai kacamata hitam. Rambutnya lebat

dan kumis dan jenggotnya tebal sekali hampir menutupi sekuruh wajahnya.

"Yuk," ajak Vika. Kemudian mereka mengha.mpiri penjaga pantai tersebut.

"Pak, kami boleh naik speedboat-nya gak?" tanya Evi.

"Ya, tapi bayar, kan?" si penjaga pantai tersebut tersenyum menggoda. Walaupun tampangnya

menyeramkan, tetapi suaranya cempreng, dan itu sempat membuat mereka kaget.

"Em, iya. Oh ya Pak, kok pantainya sepi, ya? Memang tiap hari pantainya kayak gini, ya?" tanya Evi.

"Iya, dulu pantai ini rame. Tapi sejak gosip pulau hantu itu, pantai ini jadi hampir tidak pernah

dikunjungi."

"Pulau hantu?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Iya, yang itu tuh," si penjaga pantai menunjuk sebuah pulau yang cukup jauh dari pantai.

"Katanya sih, banyak orang yang ke sana, tidak pulang lagi. Keberadaannya tidak diketahui, bahkan

polisi pun tidak berani ke sana. Jadi, kalian jangan sampai mendekati apalagi menginjakkan kaki

kalian ke pulau itu kalau kalian tidak ingin itu terjadi pada kalian," lanjut penjaga pantai itu.

"Oh, iya," kata Sheril sedikit takut.

"Udah, bapak tenang aja, kami hanya keliling di sekitar pantai aja, lagian kami ngapain juga ke

sana" kata Evi.

"Ya sudah, ingat ya, jangan sampai mendekati pulau itu. Ngerti" penjaga pantai itu mengingatkan.

"Iya, iya," jawab Evi.

Mereka kemudian menaiki speedboat  dan Evi mengendarainya. Semakin lama mereka semakin

menjauh dari pantai. Samar-samar terdengar teriakan penjaga pantai.

"Eh, kita kemana?" tanya Sheril.

"Ke pulau itu" jawab Evi enteng.

"Hah? Kamu serius? Ayo balik" teriak Vika.

"Aku penasaran, Vik. Aku pengen tahu ada apa di pulau itu," belum sempat Vika dan Sheril

menjawab, tiba-tiba Dika berteriak, "speedboat-nya bocor!"

"Apa?" teriak Evi, Vika dan Sheril bersamaan.

"Mati! Sebentar lagi kita tenggelam, Vi" kata Sheril cemas.

"Tolong, Tolong" teriak Vika dan Sheril.

"Percuma kalian minta tolong, kita sudah terlalu jauh dari pantai, jadi tidak mungkin ada yang

dengerin kita lagi," kata Dika.

"Semuanya gara-gara kamu, Vi Coba kalau kamu ga nekat mau ke pulau itu, pasti kita ga akan

terjebak di tengah laut seperti ini, kan" Vika menyalahkan Evi.

"Kenapa nyalahin aku? Aku kan hanya pengen tahu aja, lagipula aku juga gak tahu kalau

kejadiannya bakal jadi gini," balas Evi.

"Sudah, Sekarang bukan waktunya bertengkar. Sekarang kita harus cari cara buat nyelamatin diri"

potong Dika.

"Kita telepon minta tolong aja" usul Sheril.

"Udah ga ada waktu lagi. Em, sebaiknya kita berenang aja ke pulau itu, satu-satunya jalan yang ada.

kalian semua bisa berenang, kan?" usul Evi.

"Ke pulau hantu itu? Engga, ah" tolak Sheril.

"Sheril, ga ada jalan lain lagi" bujuk Evi.

"Sepertinya memang tidak ada jalan lain lagi. Terpaksa kita harus ke sana. Ok lah, kita berenang ke

sana," kata Dika.

Akhirnya mereka pun berenang bersama menuju pulau tersebut, Vika dan Sheril dengan terpaksa.

"Sebaiknya kkita nelpon aja, cari pertolongan," usul Sheril ketika mereka sampai di pulau tersebut.

"Hape-ku rusak gara-gara kena air" Vika membanting hape-nya.

"Aku juga" gerutu Sheril.

"Walaupun HP kita masih hidup juga sama aja kok, kita tetap aja ga bisa nelpon. Daerah ini kan ga

ada sinyalnya" kata Dika.

"Em, karena kita sudah sampai ke sini, kita jelajah aja yuk pulau ini" ajak Evi bersemangat.

"Vi, kita sampai di pulau ini itu gara-gara kamu Dan aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus

ngeluarin kita dari sini" bentak Vika kepada Evi.

"Kamu kira aku sengaja apa menjebakin kalian di sini?" balas Evi tidak mau kalah.

"Kalau bukan kamu yang nekat ke pulau ini, kita gak akan mungkin terjebak di sini Oh, jangan-

jangan kamu yang sengaja bocorin speedboatnya, biar kita gak bisa balik lagi, kan?" tanya Vika

dengan nada yang menantang.

"Eh, aku gak segila itu kali. Mana mungkin aku melakukan itu pada kalian. Lagian kan aku ke sini

itu karena aku pengen tahu..."

"Udah, Sekarang bukan waktunya bertengkar" potong Dika. Akhirnya mereka terdiam sejenak.

"Em, kita istirahat dulu, deh," usul Sheril. Vika dan Evi terus terdiam sampai mereka membuat api

unggun dan Evi mulai berbicara.

"Temen-temen, maafin aku, yah. Sebenarnya aku gak bermaksud mau jebakin kalian di sini..."

Vika hendak membantah, tapi Dika langsung mencegahnya.

"Vik, dengerin dulu Evi bicara sampai selesai."

"Sebenarnya aku curiga dengan si penjaga pantai itu. Dari cara bicaranya itu mencurigakan sekali.

Dan menurutku, pasti ada apa-apanya di pulau ini. Pasti ada yang gak beres..."

"Tapi, bukan kamu kan yang bocorin speedboatnya?" tanya Dika hati-hati yang sebenarnya bertujuan

untuk meyakinkan Vika.

"Tentu saja bukan. Mana mungkin seorang Evi melakukan itu pada sahabat-sahabatnya," semuanya

tersenyum, termasuk Vika.

"Em, Vi, maafin aku, ya. Aku seharusnya tidak marah-marah tadi," kata Vika.

"Gak papa kok, aku mengerti perasaanmu," kata Evi senang karena mereka sudah baikan.

"Eh, kita harus tetap hati-hati loh di pulau ini," kata Sheril.

"Kenapa? Jadi kamu benar-benar merasa pulau ini ada hantunya?" Ujar Evi.

"Bukannya gitu. Siapa tahu kalau pulau ini banyak binatang buas, gitu,"

"Betul juga kata Sheril. Sebaiknya kita harus hati-hati," kata Dika.

"Em, aku lapar, nih. Kita cari makanan yang bisa dimakan, yuk" ajak Vika.

"OK, kalau gitu kalian bertiga cari buah-buahan atau apa aja lah yang bisa dimakan di dalam hutan,

dan aku sendiri cari makanan di pantai," usul Dika.

Akhirnya Vika, Evi dan Sheril masuk ke dalam hutan. Tidak lama mereka berkeliling, tiba-tiba

mereka melihat bayangan putih dengan sedikit bercak merah yang mereka kira adalah darah

melayang di depan salah satu pohon. Vika dan Sheril berteriak. Evi terkejut, namun ia berhasil

menguasai diri untuk tidak berteriak. Evi berusaha untuk mendekati bayangan putih itu.

Bersambung ke Pulau Hantu Part 2

Langganan Judul Cerita Hantu Terbaru Masukan E-mail Dibawah ini: